تخطي للذهاب إلى المحتوى

Cinta Melawan Mesin: Menimbang Kurikulum Berbasis Cinta dalam Sorotan Wacana Kritis

Dr. Firman, M.Pd (Wakil Rektor II, IAIN Parepare)
26 يوليو 2025 بواسطة
Cinta Melawan Mesin: Menimbang Kurikulum Berbasis Cinta dalam Sorotan Wacana Kritis
Hamzah Aziz

Dalam arus besar industrialisasi pendidikan yang kian deras, cinta mungkin terdengar sebagai kata yang terlalu lembut—bahkan utopis—untuk melawan dominasi struktur yang kaku dan sistemik. Namun dalam logika wacana kritis, justru dalam kata-kata yang dianggap “lunak” itulah terdapat potensi subversif yang besar. Cinta, jika diletakkan sebagai dasar kurikulum, bukan sekadar perasaan interpersonal, melainkan sebuah proyek ideologis yang menantang tatanan wacana dominan: pendidikan sebagai pabrik pencetak tenaga kerja.


Teori wacana kritis, terutama sebagaimana dikembangkan oleh tokoh seperti Norman Fairclough, memandang bahasa tidak pernah netral. Bahasa adalah arena kuasa. Kurikulum, sebagai teks dan praktik, menjadi bentuk wacana yang merefleksikan—dan sekaligus mereproduksi—struktur sosial. Maka, ketika kurikulum disusun untuk mendukung produktivitas, efisiensi, dan kompetensi kerja semata, ia sedang beroperasi dalam logika kapitalisme. Pendidikan dikonstruksi sebagai rantai produksi, dan manusia sebagai produknya.


Di titik inilah gagasan Kurikulum Berbasis Cinta hadir bukan sekadar sebagai pendekatan pedagogis, tapi sebagai kontra-wacana. Ia menawarkan narasi alternatif bahwa pendidikan seharusnya memanusiakan manusia, bukan mengobjektifikasinya. Cinta dalam konteks ini tidak sentimental, melainkan filosofis dan politis: ia mengandaikan relasi yang setara, saling menghargai, dan berakar pada kepedulian serta tanggung jawab.


Kehadiran KBC dapat dibaca sebagai upaya mendobrak hegemoni wacana teknokratik dalam dunia pendidikan. Ketika indikator keberhasilan siswa hanya dinilai dari skor numerik, daya saing, dan keterukuran hasil, KBC menyisipkan dimensi afeksi dan relasi. Ia menggeser fokus dari output ke proses, dari kompetisi ke kolaborasi, dari instruksi ke interaksi.


Sebagai praktik manajerial dalam pendidikan Islam, pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai dasar yang menjunjung kasih sayang (rahmah), keadilan, dan keutuhan kemanusiaan. Dalam konteks tata kelola, kurikulum berbasis cinta mendorong lahirnya relasi yang bukan hirarkis antara pendidik dan peserta didik, melainkan relasi pembelajar bersama yang saling tumbuh.


Gagasan ini juga sejalan dengan inisiasi dan semangat pembaruan yang didorong oleh Kementerian Agama RI—yakni pendidikan keagamaan yang lebih transformatif dan relevan dengan zaman. Mengelola kurikulum bukan hanya soal menyusun silabus, melainkan menyusun keberpihakan: apakah kita berpihak pada sistem, atau pada manusia?


Maka, ketika cinta menjadi landasan kurikulum, yang terjadi bukan pelemahan rasionalitas, tetapi penguatan sisi humanis dalam pengelolaan pendidikan. Ia adalah bentuk manajemen yang mengatur bukan demi efisiensi semata, melainkan demi tumbuhnya martabat manusia. Inilah pendidikan yang tak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyelamatkan.


Cinta Melawan Mesin: Menimbang Kurikulum Berbasis Cinta dalam Sorotan Wacana Kritis
Hamzah Aziz 26 يوليو 2025
شارك هذا المنشور
الأرشيف