Skip to Content

Riset: Tradisi Mappamula Ase Memperkuat Harmoni Alam dan Spiritualitas Petani Bugis Sidrap

December 26, 2025 by
Fikruzzamansaleh

Di tengah arus modernisasi yang kian mengikis nilai-nilai luhur dan praktik pertanian tradisional, banyak kearifan lokal berjuang menjaga eksistensinya. Lahan-lahan hijau yang dulu menjadi saksi bisu ritual syukur kini berhadapan dengan teknologi dan gaya hidup baru, mengancam warisan budaya yang telah turun-temurun. Namun, di beberapa sudut Nusantara, masih ada tradisi yang kokoh bertahan, menjadi jangkar bagi masyarakat dalam menghadapi perubahan.


Salah satunya adalah Tradisi Mappamula Ase, sebuah praktik agraris yang tetap lestari di kalangan petani Bugis Sidrap. Dalam riset berjudul “Tradisi Mappamula Ase: Kearifan Lokal Petani Bugis Sidrap dalam Menjaga Harmoni Alam dan Spiritualitas” yang dilakukan oleh A. Rio Makkulau Wahyu, Mukhtar Yunus, Wirani Aisiyah Anwar, dan Muh. Rizal Samad, terungkap bagaimana tradisi ini bukan sekadar ritual panen biasa. Mappamula Ase merupakan perwujudan filosofi mendalam yang mengikat manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam satu kesatuan harmonis. Penelitian ini menganalisis makna, fungsi, dan peran tradisi ini dalam kehidupan sosial-ekonomi serta budaya masyarakat petani Bugis Sidrap, menggunakan pendekatan kualitatif etnografi.


Makna Filosofis di Balik Mappamula Ase


Tradisi Mappamula Ase sudah ada sejak zaman nenek moyang petani Bugis Sidrap dan diwariskan secara turun-temurun. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada Datu Ase, sosok yang diyakini sebagai penjaga tanaman padi dari hama. “Ammulangenna Mappamula Ase memeng riolo pole okko nenek moyang,” jelas seorang Tokoh Adat dalam wawancara, menegaskan akar historis tradisi ini yang berasal dari leluhur.


Pelaksanaannya dilakukan di pinggir sawah sebelum panen dimulai, sebagai pembuka musim panen. Tujuan utamanya memperoleh hasil panen berkualitas, melimpah, dan penuh keberkahan. Petani juga meyakini bahwa tradisi ini membangkitkan semangat pertanian. “Mappamula Ase ijama nasaba meloki sumange angalungnge na mabbarakka ipole,” ungkap Tokoh Adat lainnya, menjelaskan bahwa tradisi ini memberikan kekuatan batin bagi petani dalam menghadapi musim tanam dan panen. Mappamula Ase, dengan demikian, bukan hanya ritual adat, melainkan sumber motivasi spiritual yang mendalam bagi petani dalam menjalani kehidupan pertanian.


Simbolisme dalam Setiap Gerak


Setiap elemen dalam Tradisi Mappamula Ase mengandung makna simbolis yang kaya. Prosesi diawali dengan pembacaan basmalah, diikuti dengan pengolesan minyak khusus pada batang padi sebelum dipotong. Padi kemudian dipakkurusumange (diberi doa dan semangat hidup) sambil dibacakan zikir, seperti tasbih, tahlil, dan tahmid. Doa tradisional Awali rettoko, isangka warekkekko juga dilantunkan sebelum pemotongan padi dimulai. Padi dipotong satu per satu hingga terkumpul dalam satu ikatan, lalu diusap dengan minyak, ditaburi benno (butiran padi goreng), dan diikat menggunakan wesse (kulit pohon awaru) sebelum disimpan di pematang sawah.


Ritual ini diulang tiga kali, melambangkan kesempurnaan dan harapan akan kelimpahan panen. Setelah pemotongan, masyarakat melakukan doa syukuran dengan sajian sederhana seperti sokko (beras ketan) dan pisang, ditutup dengan pembacaan Surah Al-Fatihah. Ini adalah wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen. Seluruh rangkaian ini menekankan penghormatan terhadap padi sebagai sumber kehidupan, sekaligus pengikat nilai religius dan tradisi agraris masyarakat Bugis Sidrap.


Prosesi mappadince sengkeru dilakukan sehari sebelum acara inti, dengan menancapkan sengkeru (batang bambu) di pintu masuk dan keluar air serta pematang sawah. Ini berfungsi sebagai penanda sekaligus penghalang simbolis agar sawah terjaga dari gangguan. Tahap mappasadia menyiapkan segala keperluan, dari perlengkapan doa hingga hewan sembelihan. Kemudian, maggere manu, penyembelihan sepasang ayam kampung, dipercaya sebagai bentuk persembahan dan doa keselamatan. Selanjutnya, mappepaccing sibawa mabaca-baca membersihkan diri dan melafalkan doa sebagai pensucian lahir batin, diikuti mappepaccing ulu ase untuk mensucikan padi yang akan dipanen. Ini menunjukkan padi sebagai anugerah yang harus dijaga dan dihormati.


Peralatan dan bahan yang digunakan juga sarat makna. Rakapeng, pisau khusus untuk memotong padi pertama, bukan sekadar alat, melainkan simbol penghormatan. Benno melambangkan permohonan rezeki, sementara wesse menyimbolkan manfaat dan kehidupan. Sengkeru menandakan penetapan keberkahan. Rekko ota (lipatan daun sirih) dan daun awaru menjadi sarana persembahan dan penghubung doa. Sokko dan pisang melambangkan kelimpahan, keselamatan, dan perlindungan. Seluruh simbolisme ini memperkuat nilai religius, budaya, dan spiritual tradisi Mappamula Ase.


Pilar Harmoni Sosial dan Ekologis


Dari perspektif fungsionalisme struktural, Mappamula Ase berfungsi menjaga keseimbangan sosial. Prosesi ritual yang melibatkan seluruh warga desa memperkuat ikatan sosial, menumbuhkan rasa kebersamaan, dan memastikan nilai budaya diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menjadi institusi sosial yang menjaga harmoni masyarakat serta menjadi sarana pewarisan identitas budaya di tengah arus modernisasi. Pelaksanaannya menumbuhkan solidaritas dan gotong royong, serta mengajarkan generasi muda tentang simbol, tata cara, dan nilai filosofisnya. Ini menjadikan Mappamula Ase sebagai mekanisme pendidikan sosial dan budaya yang berlangsung secara alami.


Dari sisi ekologi budaya, Mappamula Ase mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan. Penghormatan kepada Datu Ase menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Ritual ini menanamkan kesadaran bahwa keberhasilan panen tidak hanya bergantung pada kerja manusia, tetapi juga pada kelestarian alam. Petani Bugis Sidrap terdorong merawat sawah dan menjaga kesuburan lingkungan. Mappamula Ase menunjukkan keterhubungan erat antara aktivitas pertanian dengan nilai spiritual dan simbolisme. Peralatan dan bahan ritual menjadi sarana untuk meneguhkan pandangan bahwa hasil panen adalah karunia yang harus disyukuri, menumbuhkan kesadaran ekologis kolektif, di mana kerusakan alam berdampak langsung pada keberlangsungan hidup.


Interaksi Simbolik dan Pewarisan Nilai


Dalam kerangka interaksionisme simbolik, Mappamula Ase adalah bentuk komunikasi simbolik yang memperkuat identitas budaya dan spiritual petani Bugis Sidrap. Setiap simbol, baik berupa peralatan, doa, maupun tempat pelaksanaan, memiliki arti yang dipahami secara kolektif dan meneguhkan jati diri komunitas. Generasi muda yang menyaksikan dan terlibat dalam prosesi belajar tentang simbol, makna, dan nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Melalui proses interaksi inilah, tradisi ini tetap hidup dan bertahan di tengah modernisasi. Nilai-nilai syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap rezeki diwariskan secara simbolis melalui praktik budaya ini.


Tradisi ini bukan hanya kegiatan simbolis, tetapi juga strategi ekologis untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kepercayaan. Prosesi doa dan penghormatan pada Datu Ase mencerminkan kesadaran ekologis masyarakat dalam melestarikan alam agar tetap subur dan tidak dirusak oleh perilaku manusia. Ini berfungsi sebagai mekanisme budaya dalam menjaga kelestarian sumber daya alam sekaligus menginternalisasi nilai keberlanjutan pada generasi berikutnya. Mappamula Ase, dengan demikian, bukan hanya warisan budaya dan identitas kolektif, tetapi juga mekanisme sosial yang memperkuat kohesi masyarakat sekaligus wujud adaptasi ekologis petani Bugis Sidrap terhadap lingkungannya.


Masa Depan Tradisi Mappamula Ase


Tradisi Mappamula Ase menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi, namun esensinya tetap relevan sebagai strategi budaya untuk keberlanjutan pertanian. Agar tradisi ini tetap lestari, perlu pendekatan edukasi dan inovasi budaya yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai aslinya. Pemerintah desa, tokoh adat, dan tokoh agama dapat berkolaborasi untuk memberikan pemahaman bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga sarana memperkuat identitas budaya, menjaga harmoni sosial, dan melestarikan ekologi pertanian.


Selain itu, dokumentasi tradisi dalam bentuk tulisan, video, maupun media digital perlu digalakkan agar generasi muda dapat mengenal, memahami, dan merasa memiliki warisan leluhur ini. Mappamula Ase tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi bagi penguatan kearifan lokal di era modern. Upaya ini akan memastikan bahwa harmoni yang terjalin antara manusia, alam, dan spiritualitas melalui Mappamula Ase akan terus berlanjut, memberikan fondasi kuat bagi ketahanan pangan dan budaya di masa depan.


Identitas Riset

Judul: Tradisi Mappamula Ase: Kearifan Lokal Petani Bugis Sidrap dalam Menjaga Harmoni Alam dan Spiritualitas

Peneliti: A. Rio Makkulau Wahyu, Mukhtar Yunus, Wirani Aisiyah Anwar, Muh. Rizal Samad

Institusi: IAIN Parepare

Tahun: 2025


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Q. (2020). Riset Budaya: Mempertahankan Tradisi di Tengah Krisis Moralitas. https://doi.org/10.31219/osf.io/2eyah

Folke, C., Hahn, T., Olsson, P., & Norberg, J. (2005). ADAPTIVE GOVERNANCE OF SOCIAL-ECOLOGICAL SYSTEMS. Annual Review of Environment and Resources, 30(1), 441–473. https://doi.org/10.1146/annurev.energy.30.050504.144511

Nasruddin, N. (2017). TRADISI MAPPAMULA ASE (PANEN PERTAMA) PADA MASYARAKAT BUGIS TOLOTANG DI SIDENRENG RAPPANG (Kajian Antropologi Budaya). Rihlah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan, 5(1), 1–15.