Judul: Pengembangan Model Pembelajaran Learning by Research Berbasis Multiple Intelligence sebagai Respon terhadap Era Society 5.0
Penulis: Rustan Efendy dan Muh. Akib D
Penerbit: IAIN Parepare Nusantara Press
Tahun: 2025
ISBN: 978-623-8563-47-0
Belajar di kampus sering terasa seperti rutinitas yang bisa ditebak: dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat, lalu ujian datang dan pergi. Nilai diperoleh, semester selesai, tetapi tak selalu jelas pengetahuan apa yang benar benar tinggal. Di tengah pola yang begitu akrab itu, buku Pengembangan Model Pembelajaran Learning by Research Berbasis Multiple Intelligence sebagai Respon terhadap Era Society 5.0 terasa seperti ajakan pelan tetapi tegas untuk mengubah cara kita memandang belajar.
Buku ini berangkat dari kegelisahan nyata: banyak mahasiswa lulus mata kuliah, tetapi sedikit yang terbiasa meneliti, menulis, dan mempublikasikan gagasan. Riset sering dianggap wilayah skripsi semata, seolah ia adalah garis finis, bukan jalan yang menemani proses belajar. Para penulis membalik logika itu. Bagi mereka, riset justru seharusnya hadir sejak awal sebagai cara belajar itu sendiri. Mahasiswa tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi dilatih mencarinya, meragukannya, lalu merumuskannya kembali.
Yang membuat buku ini menarik, gagasan itu tidak melayang di awang awang. Penulis menunjukkan potret nyata ruang kelas yang masih didominasi ceramah dan tugas makalah rutin. Dari sana, mereka menawarkan model pembelajaran yang mendorong mahasiswa mengamati masalah di sekitar, mengumpulkan data, berdiskusi, lalu menuliskannya. Belajar menjadi lebih dekat dengan kehidupan, tidak berhenti di slide presentasi.
Di saat yang sama, buku ini mengingatkan bahwa mahasiswa bukanlah mesin fotokopi pengetahuan. Mengacu pada pemikiran tentang kecerdasan majemuk, buku ini menekankan bahwa setiap orang punya cara cerdas yang berbeda. Ada yang kuat di bahasa, ada yang logika, ada yang piawai berinteraksi sosial, ada pula yang reflektif. Jika pembelajaran hanya memakai satu pola, banyak potensi mahasiswa yang tertinggal. Dengan riset sebagai wahana, keragaman kecerdasan itu justru bisa mendapat ruang: yang gemar bicara mempresentasikan temuan, yang teliti mengolah data, yang peka sosial turun ke lapangan.

Semua ini terasa relevan dengan zaman ketika informasi berlimpah dan teknologi kian canggih. Di era yang sering disebut Society 5.0, manusia tidak cukup hanya tahu banyak hal, tetapi perlu mampu memilah, menganalisis, dan memecahkan masalah nyata. Buku ini seolah berkata bahwa kampus idealnya bukan pabrik ijazah, melainkan tempat lahirnya penanya penanya tangguh.
Meski bernuansa akademik, pesan buku ini mudah ditangkap: belajar akan lebih bermakna ketika mahasiswa terlibat langsung mencari jawaban. Ia cocok dibaca dosen dan mahasiswa, tetapi juga relevan bagi siapa saja yang merasa pendidikan kita perlu lebih dari sekadar hafalan. Pada akhirnya, buku ini mengingatkan sesuatu yang sederhana tetapi sering terlupa: pengetahuan paling kuat adalah yang ditemukan, bukan hanya diberikan.
Catatan: Ulasan buku dapat Anda dengarkan melalui audiobook ini