تخطي للذهاب إلى المحتوى

Menolak Bala dengan Budaya, Iman, dan Solidaritas Sosial

Resensi Buku Tolak Bala’: Mitigasi Bencana Berbasis Dakwah Kultural, Ekonomi, dan Ekoteologi karya Dr. Nurhikmah, S.Sos.I., M.Sos.I. dan  Dr. Sitti Aisya, S.E.I., M.E.I.
28 يناير 2026 بواسطة
Menolak Bala dengan Budaya, Iman, dan Solidaritas Sosial
Suhartina

Judul Buku

Tolak Bala’: Mitigasi Bencana Berbasis Dakwah Kultural, Ekonomi, dan Ekoteologi

Penulis

Dr. Nurhikmah, S.Sos.I., M.Sos.I.

Dr. Sitti Aisya, S.E.I., M.E.I.

Penerbit : IAIN Parepare Nusantara Press, 2025

Jumlah halaman: + 142
ISBN: 978-623-8563-48-7

Resensi

Di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam dan krisis ekologis global, pendekatan mitigasi yang semata-mata teknokratis semakin menunjukkan keterbatasannya. Buku Tolak Bala’: Mitigasi Bencana Berbasis Dakwah Kultural, Ekonomi, dan Ekoteologi hadir menawarkan jalan alternatif yang berakar pada budaya lokal, nilai keagamaan, dan solidaritas sosial sebagai fondasi ketangguhan masyarakat. Buku ini berangkat dari pembacaan kritis terhadap tradisi tolak bala’ yang selama ini kerap dipersepsikan sebatas ritual spiritual. Melalui pendekatan interdisipliner, penulis berhasil menunjukkan bahwa tolak bala’ bukan hanya ekspresi religius, melainkan juga praktik sosial yang mengandung dimensi edukatif, ekonomi, dan ekologis. Tradisi ini diposisikan sebagai bentuk mitigasi bencana non-struktural yang bekerja melalui penguatan modal sosial, kesadaran lingkungan, dan partisipasi komunitas.

Secara sistematis, buku ini dibagi ke dalam beberapa bab utama. Bab awal mengulas problem sosial, keagamaan, dan ekologis dalam konteks modern, sekaligus menegaskan perlunya pendekatan mitigasi yang holistik. Bab selanjutnya membahas konsep mitigasi bencana, memperbandingkan pendekatan konvensional dengan mitigasi berbasis kearifan lokal. Di bagian ini, penulis menegaskan bahwa mitigasi berbasis budaya memiliki keunggulan kontekstual, partisipatif, dan berkelanjutan.

Bagian yang paling kuat dari buku ini terletak pada analisis tolak bala’ sebagai praktik kultur-religius. Penulis memaparkan sejarah, ragam bentuk ritual, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti spiritualitas, solidaritas sosial, dan kesalehan sosial. Studi lokal di Kota Parepare menjadi contoh konkret bagaimana ritual tolak bala’ berfungsi sebagai ruang dakwah kultural sekaligus mekanisme penguatan ekonomi mikro dan ketahanan sosial masyarakat.

Keunggulan buku ini juga tampak pada upaya rekonstruksi model mitigasi bencana berbasis dakwah kultural, ekonomi, dan ekoteologi. Integrasi ketiga aspek tersebut menjadikan mitigasi tidak hanya berorientasi pada pengurangan risiko fisik, tetapi juga pada pembentukan kesadaran etis dan tanggung jawab ekologis. Dalam kerangka ini, agama tidak ditempatkan sebagai dogma, melainkan sebagai energi moral yang menggerakkan perubahan sosial.

Dari sisi akademik, buku ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kajian dakwah kultural, studi kebencanaan, dan ekoteologi Islam Nusantara. Dari sisi praktis, buku ini relevan bagi praktisi kebencanaan, tokoh agama, dan pembuat kebijakan yang ingin mengembangkan model mitigasi berbasis masyarakat. Meski demikian, sebagian pembaca mungkin berharap adanya penguatan data empiris komparatif antarwilayah untuk memperluas generalisasi temuan.

Secara keseluruhan, Tolak Bala’ adalah buku yang berhasil menjembatani agama, budaya, dan ilmu kebencanaan dalam satu narasi yang utuh dan kontekstual. Buku ini layak dibaca tidak hanya sebagai karya akademik, tetapi juga sebagai inspirasi bagi upaya membangun masyarakat yang tangguh, beriman, dan berkelanjutan di tengah ancaman krisis multidimensi.

Catatan : Ulasan buku dapat didengarkan melalui audiobook ini
Buku lengkap dapat dibaca di laman ini

في Resensi