Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, perempuan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menghadapi tantangan ganda. Mereka tidak hanya mengemban peran sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Fenomena ini bukan tanpa konsekuensi. Angka perceraian di Indonesia, yang mencapai 40%, seringkali dipicu oleh faktor ekonomi, menyoroti kerapuhan ketahanan keluarga yang mengandalkan satu sumber pendapatan.
Dalam riset berjudul “Ketahanan Ekonomi Keluarga Pengrajin Lipa Sabbeq Di Kabupaten Polewali Mandar : Peran Moderasi Prinsi Psibali Parriq Dalam Hubungan Antara Peran Ganda Perempuan Dan Literasi Keuangan” yang dilakukan oleh Arwin, Sutrisno, dan Nurfitriani dari IAIN Parepare dan Universitas Mulawarman, terungkap bagaimana peran ganda perempuan pengrajin Lipa Sabbeq secara signifikan berkontribusi pada ketahanan ekonomi keluarga. Namun, studi ini juga menemukan bahwa literasi keuangan dan prinsip kearifan lokal “Sibali Parriq” belum mampu memoderasi atau memperkuat hubungan tersebut secara signifikan.
Beban Ganda Perempuan: Kekuatan Tak Tergantikan
Di Kabupaten Polewali Mandar, khususnya di wilayah pedesaan, perempuan pengrajin Lipa Sabbeq telah lama mengusung peran ganda. Warisan budaya ini menuntut mereka untuk bekerja delapan jam sehari di luar rumah, di samping mengurus keluarga. Ini adalah pilihan dilematis yang seringkali memicu kelelahan dan kesulitan membagi waktu.
Namun, Arwin dan tim peneliti menemukan bahwa peran ganda ini justru memberikan kontribusi kuat terhadap pendapatan keluarga, terutama ketika perempuan mampu mengelola kedua perannya dengan baik. Hasil analisis data menunjukkan bahwa peran ganda wanita memiliki pengaruh signifikan terhadap ketahanan ekonomi keluarga. Ini berarti bahwa kemampuan perempuan untuk menyeimbangkan tanggung jawab domestik dan produktif secara langsung memperkuat stabilitas keuangan keluarga, membantu mereka menghadapi guncangan ekonomi, dan memenuhi kebutuhan dasar secara berkelanjutan.
Temuan ini selaras dengan teori role expansion yang menyatakan bahwa partisipasi dalam berbagai peran, jika didukung sumber daya psikologis dan sosial, dapat memperkuat ketahanan individu dan keluarga. Di Polman, pendapatan dari penjualan Lipa Sabbeq seringkali dialokasikan untuk biaya pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan pokok, bukan semata-mata untuk konsumsi pribadi. Ini menggarisbawahi bagaimana peran ekonomi perempuan tidak hanya produktif, tetapi juga redistributif, memperkuat ketahanan sosial-ekonomi keluarga secara holistik.
Literasi Keuangan: Jauh dari Realitas Praktis
Berbeda dengan peran ganda, literasi keuangan di kalangan pengrajin Lipa Sabbeq tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap ketahanan ekonomi keluarga. Meskipun literatur dominan sering menekankan pentingnya literasi keuangan, penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan formal tentang keuangan belum menjadi faktor dominan dalam meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga di Polewali Mandar.
Mengapa demikian? Tim peneliti mengidentifikasi beberapa alasan. Banyak responden masih mengandalkan strategi ekonomi berbasis komunitas seperti arisan atau pinjam-meminjam antar tetangga, yang telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal. Praktik-praktik ini, meski tidak selalu selaras dengan prinsip literasi keuangan modern, terbukti efektif dalam menjaga kelangsungan ekonomi keluarga dalam jangka pendek.
Selain itu, pemahaman responden terhadap konsep keuangan dasar, seperti manfaat menabung di bank atau perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, masih terbatas. Banyak perempuan pengrajin lebih memilih menyimpan uang tunai di rumah karena alasan keamanan dan kemudahan akses, serta ketidakpercayaan terhadap sistem perbankan. Pendidikan formal yang rendah dan keterbatasan akses terhadap layanan keuangan digital turut memperkuat ketergantungan pada mekanisme informal. Jarak geografis ke kantor bank, biaya administrasi, dan prosedur rumit menjadi penghambat utama akses perempuan terhadap layanan keuangan formal. Akibatnya, pengetahuan keuangan tidak diterapkan karena tidak relevan dengan realitas sehari-hari, sehingga tidak berdampak pada ketahanan ekonomi.
Sibali Parriq: Ideal Budaya yang Belum Teraktualisasi Penuh
Prinsip “Sibali Parriq” merupakan nilai kearifan lokal masyarakat Mandar yang menekankan kerja sama, saling bantu, dan gotong royong dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Secara filosofis, prinsip ini mengandung nilai solidaritas, kemitraan, dan tanggung jawab bersama dalam keluarga. Namun, penelitian ini menemukan bahwa Sibali Parriq tidak mampu memoderasi pengaruh peran ganda perempuan maupun literasi keuangan terhadap ketahanan ekonomi keluarga.
Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ideal budaya dan realitas sosial. Meskipun Sibali Parriq diakui secara normatif, implementasinya dalam praktik ekonomi rumah tangga sehari-hari masih terbatas. Dalam banyak kasus, perempuan pengrajin Lipa Sabbeq justru menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, sementara peran suami dalam kontribusi finansial atau domestik masih terbatas. Ini selaras dengan teori gendered division of labor yang menyatakan bahwa beban ekonomi dan domestik seringkali dibebankan kepada perempuan, meskipun nilai budaya secara formal menekankan kesetaraan.
Nilai budaya lokal tidak otomatis bertransformasi menjadi modal sosial yang produktif kecuali diwujudkan dalam tindakan nyata dan didukung oleh struktur sosial yang setara. Kurangnya komitmen bersama dalam praktik ekonomi rumah tangga membuat prinsip Sibali Parriq belum berfungsi sebagai bonding social capital yang efektif.
Membangun Ketahanan Ekonomi Keluarga yang Lebih Inklusif
Temuan riset ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang lebih kontekstual dan inklusif dalam upaya meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga, terutama di komunitas pengrajin Lipa Sabbeq. Fokus pada penguatan peran ganda perempuan memang krusial, namun ini perlu dilengkapi dengan strategi yang lebih adaptif untuk literasi keuangan dan pengarusutamaan nilai budaya lokal.
Pemerintah dan lembaga terkait dapat mempertimbangkan program literasi keuangan yang dimulai dari praktik ekonomi informal yang sudah ada, seperti pencatatan pemasukan dari penjualan Lipa Sabbeq atau manajemen arisan. Kemudian, diperkuat dengan prinsip sederhana seperti alokasi dana darurat, perencanaan musiman, atau mitigasi risiko harga. Pendekatan ini akan lebih relevan bagi masyarakat pedesaan yang belum sepenuhnya terhubung dengan sistem perbankan formal. Selain itu, program pemberdayaan keluarga sebaiknya tidak hanya menyasar perempuan, tetapi juga melibatkan laki-laki dalam dialog kesetaraan gender berbasis budaya. Kemitraan suami-istri dalam pengelolaan keuangan, pembagian kerja domestik, dan pengambilan keputusan ekonomi harus dijadikan indikator keberhasilan program, bukan sekadar tingkat partisipasi perempuan. Mengintegrasikan nilai-nilai Sibali Parriq ke dalam praktik ekonomi spesifik, misalnya melalui pendampingan yang menekankan tanggung jawab bersama, dapat menjembatani kesenjangan antara ideal dan realitas, sehingga kearifan lokal benar-benar menjadi fondasi operasional bagi ketahanan ekonomi keluarga.
Identitas Riset
Judul: Ketahanan Ekonomi Keluarga Pengrajin Lipa Sabbeq Di Kabupaten Polewali Mandar : Peran Moderasi Prinsi Psibali Parriq Dalam Hubungan Antara Peran Ganda Perempuan Dan Literasi Keuangan
Peneliti: Arwin, Sutrisno, Nurfitriani
Institusi: IAIN Parepare
Tahun: 2025
Daftar Pustaka / Referensi
Afrizal, S., & Lelah, P. (2021). Peran Ganda Perempuan Dalam Peningkatan Perekonomian Keluarga: Studi Kasus Pada Perempuan Bekerja Di Kecamatan Padarincang Kabupaten Serang.
