LP2M IAIN Parepare---Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Parepare turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis pendataan Anak Tidak Sekolah (ATS) tahun 2025 di Desa Wanio, Kecamatan Panca Lautang. Kegiatan ini digelar untuk memetakan anak usia sekolah yang belum bersekolah serta merumuskan langkah strategis untuk meningkatkan akses pendidikan di wilayah tersebut.
Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi permasalahan pendidikan di banyak daerah, termasuk Desa Wanio. Faktor yang mempengaruhi kondisi ini beragam, mulai dari keterbatasan ekonomi, rendahnya kesadaran pendidikan, akses yang terbatas, hingga faktor sosial dan budaya. Dampak jangka panjang dari anak tidak sekolah dapat menghambat pengembangan potensi mereka serta mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 13 Agustus 2025, pukul 13.30 WITA di Kantor Desa Wanio, dengan dihadiri sekitar 80 peserta. Peserta terdiri dari aparatur desa, tokoh masyarakat, kader posyandu, mahasiswa KKN IAIN Parepare dan UMS Rappang, serta tim dari dinas pendidikan terkait.
Mahasiswa KKN berperan aktif dalam sosialisasi dan bimbingan teknis ini. Mereka mendampingi peserta, membantu dokumentasi, dan memahami alur pendataan ATS. Kegiatan meliputi penyampaian materi oleh narasumber, diskusi interaktif, serta simulasi pengisian data yang nantinya akan digunakan untuk merancang program pendidikan dan pemberdayaan anak.
Narasumber menyampaikan beberapa poin penting selama kegiatan, antara lain dampak sosial anak tidak sekolah yang berpotensi mengalami keterbatasan keterampilan, kesulitan memperoleh pekerjaan layak, dan lebih rentan terhadap masalah sosial. Selain itu, pendataan ATS membutuhkan peran serta masyarakat secara aktif, termasuk tokoh adat, tokoh agama, keluarga, dan warga desa.
Pendekatan humanis juga ditekankan dalam pelaksanaan pendataan. Petugas diminta menggunakan bahasa yang sopan, menghargai privasi keluarga, dan memahami kondisi sosial ekonomi warga agar mereka merasa nyaman dan tidak terhakimi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi data dan kesediaan masyarakat untuk bekerja sama.
Data yang terkumpul nantinya akan menjadi acuan penting bagi pemerintah desa dalam merancang program pendidikan yang tepat sasaran, mulai dari pemberian beasiswa, bantuan pendidikan, program kesetaraan, pelatihan keterampilan, hingga pendidikan nonformal. Narasumber juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara dinas pendidikan, dinas sosial, lembaga keagamaan, LSM, dan perguruan tinggi agar intervensi lebih efektif.
Diharapkan melalui kegiatan ini, pendataan ATS di Desa Wanio dapat berjalan lancar dan menghasilkan data yang valid. Mahasiswa KKN diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh untuk mendukung pemberdayaan masyarakat, meningkatkan kualitas pendidikan, serta membantu pemerintah dalam mengembalikan anak-anak ke dunia pendidikan dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan.(Fzs/Srh)