Skip ke Konten

Selamat Datang Mahasiswa Baru: Jangan Hanya Singgah, Jadilah Penuntut Ilmu Sejati

Dr. H. Islamul Haq, Lc., M.A (Direktur Pascasarjana IAIN Parepare)
28 Agustus 2025 oleh
Selamat Datang Mahasiswa Baru: Jangan Hanya Singgah, Jadilah Penuntut Ilmu Sejati
Hamzah Aziz

"Ilmu tanpa akhlak hanyalah kesombongan. Sarjana tanpa konsistensi hanyalah gelar kosong. Mahasiswa tanpa perjuangan hanyalah penonton di kelas, bukan pejuang ilmu. Orang cerdas tapi malas akan tersisih oleh mereka yang tekun, disiplin, dan konsisten dalam belajar. Kecerdasan hanyalah potensi, tetapi ketekunan adalah kekuatan nyata." (Islamul Haq)

Menjadi mahasiswa bukanlah sekadar berganti pakaian dari putih abu-abu menjadi almamater kampus. Status itu menuntut perubahan cara berpikir, kedewasaan sikap, dan kematangan akhlak. Tetapi sering kali, kata “mahasiswa” hanya berhenti di lisan dan media sosial, tanpa benar-benar tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Betapa banyak yang merasa bangga menyandang status baru, tetapi lupa bahwa kampus bukanlah arena bebas tanpa batas. Ada yang lebih sibuk bergaya, mengoleksi swafoto, dan menghitung jumlah “like” daripada membuka buku. Media sosial menjadi kitab sucinya, sementara perpustakaan terasa asing baginya.

Ada juga yang cepat merasa puas hanya karena sudah duduk di bangku kuliah. Padahal, menjadi mahasiswa berarti siap berlelah-lelah dalam mencari ilmu. Mahasiswa sejati adalah mereka yang terus menggali, tidak menunggu disuapi, dan tidak berhenti hanya karena sudah merasa cukup tahu.

Ilmu itu menuntut konsistensi, ketekunan, dan kerendahan hati. Imam al-Syafi’i pernah berkata: “Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal, petunjuk guru, dan waktu yang panjang.” Tidak ada satu pun di antaranya yang bisa diraih dengan sikap bermalas-malasan, hedonis, atau setengah hati.

Banyak orang membanggakan kecerdasan tinggi, IQ di atas rata-rata, bahkan merasa dirinya lebih unggul dari teman-temannya. Namun sejarah membuktikan: IQ tinggi akan kalah oleh ketekunan. Orang cerdas tapi malas akan tersisih oleh mereka yang tekun, disiplin, dan konsisten dalam belajar. Kecerdasan hanyalah potensi, tetapi ketekunan adalah kekuatan nyata.

Di sinilah peran dosen harus dipahami dengan benar. Dosen bukanlah “mesin fotokopi ilmu” yang menyiapkan segalanya. Mereka hanyalah penunjuk jalan, pemandu yang menunjukkan arah. Tetapi berjalan, berusaha, jatuh-bangun, dan bekerja keras itu kewajiban mahasiswa.

Sebagaimana diingatkan oleh Yahya bin Abi Katsir rahimahullah: “Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang santai.” Ucapan ini mengandung pesan mendalam bahwa ilmu tidak mungkin dicapai dengan kemalasan atau banyak bersenang-senang. Semakin tinggi cita-cita seorang penuntut ilmu, semakin sedikit waktu yang bisa ia gunakan untuk bermalas-malasan. Ia harus siap berkorban mengurangi tidur, menahan lelah, mengosongkan kenyamanan, dan menggantinya dengan kerja keras. Ilmu adalah anugerah besar yang hanya diberikan kepada mereka yang bersungguh-sungguh mengejarnya.

Imam al-Syafi’i rahimahullah juga menegaskan: “Ilmu ini tidak akan diperoleh oleh orang yang mudah bosan, merasa cukup, dan enggan berkorban. Ia hanya akan didapat oleh mereka yang menahan diri, berlapang dada dalam kesempitan hidup, serta rela berkhidmat untuk ilmu barulah ia akan beruntung.”

Sejarah ulama adalah cermin ketekunan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah rela berjalan ribuan kilometer hanya demi mendengar satu hadis dari perawi yang terpercaya. Imam al-Bukhari sejak muda terbiasa menghafal ribuan hadis dengan disiplin luar biasa. Imam Malik rahimahullah pun juga selalu menekankan kepada murid-muridnya: “Pelajarilah adab sebelum kalian mempelajari ilmu.”

Mereka semua mencontohkan bahwa konsistensi belajar, adab, dan kerja keras adalah kunci keberhasilan. Tanpa ketiganya, gelar hanyalah hiasan. "Ilmu tanpa akhlak hanyalah kesombongan. Sarjana tanpa konsistensi hanyalah gelar kosong. Mahasiswa tanpa perjuangan hanyalah penonton di kelas, bukan pejuang ilmu."

Maka jangan biarkan masa kuliah kalian hanya diisi rutinitas hadir-absen, lalu lulus tanpa meninggalkan jejak keilmuan. Ingatlah, ijazah hanya selembar kertas, tetapi ilmu yang diamalkan dan akhlak yang dijaga adalah cahaya yang akan menerangi jalan hidup, bahkan setelah meninggalkan dunia kampus.


Selamat Datang Mahasiswa Baru: Jangan Hanya Singgah, Jadilah Penuntut Ilmu Sejati
Hamzah Aziz 28 Agustus 2025
Share post ini
Arsip