Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan merebaknya intoleransi, gagasan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dicetuskan oleh Kementerian Agama RI menjadi angin segar bagi dunia pendidikan. Bukan hanya karena ia menawarkan pendekatan baru dalam mengajar, tetapi karena kurikulum ini menyentuh akar terdalam dari misi pendidikan itu sendiri: memanusiakan manusia.
Cinta sebagai Prinsip Dasar Pendidikan
Konsep pendidikan selama ini terlalu banyak menekankan aspek kognitif hafalan, capaian numerik dan prestasi akademik. Dalam banyak madrasah dan sekolah, nilai agama pun kerap disampaikan dalam bentuk dogma normatif yang kaku, tanpa ruang dialog atau empati. Padahal, inti ajaran agama apapun agamanya adalah cinta, welas asih, dan penghargaan terhadap kehidupan.
Dalam konteks ini, KBC berusaha membumikan nilai cinta dalam proses belajar-mengajar. Ia mengajak guru untuk tidak sekadar menjadi pengajar materi, tetapi pendidik jiwa (soul educator) yang mampu menciptakan ruang belajar yang aman, inklusif, dan penuh kasih sayang.
Dari Spiritualitas Menuju Moderasi
Kurikulum ini secara eksplisit tidak menggantikan kurikulum lama, tetapi mengintervensi pendekatan pedagogisnya. Cinta bukan dalam arti sentimental atau emosional belaka, melainkan sebagai nilai transformatif. Cinta yang dimaksud di sini mencakup tiga lapisan: cinta kepada Tuhan (transendental), cinta kepada sesama (sosial), dan cinta kepada lingkungan (ekologis).
Dengan pendekatan ini, KBC menjadi bagian dari upaya strategis untuk membumikan moderasi beragama. Moderasi bukan berarti mengaburkan keyakinan, tetapi membangun keimanan yang ramah dan toleran terhadap perbedaan.
Mengapa Jalan Tengah Itu Penting?
Indonesia, dengan keragaman agama dan budaya, membutuhkan model pendidikan agama yang tidak eksklusif. Data dari Setara Institute menunjukkan bahwa intoleransi di kalangan pelajar meningkat dari tahun ke tahun. Ini adalah sinyal bahwa pendidikan agama yang eksklusif dan normatif tidak cukup membentuk karakter yang inklusif.
Di sinilah KBC mengambil posisi tengah: ia tidak menggantikan ajaran agama, tapi memperhalus cara penyampaiannya agar lebih menyentuh aspek kemanusiaan siswa. Dalam istilah Paulo Freire, pendidikan seharusnya menjadi "praktik kebebasan" membebaskan siswa dari kebekuan berpikir, bukan memperkuat doktrin
Tantangan Implementasi
Namun, jalan menuju pendidikan berbasis cinta tidak mudah. Guru seringkali terbebani target administratif, kurang pelatihan pedagogis berbasis empati, serta minim dukungan psikososial dalam mengelola kelas. Implementasi KBC juga akan bergantung pada kesiapan struktur pendidikan, dukungan kelembagaan, serta kemauan politik untuk menjadikan pendidikan sebagai alat transformasi sosial bukan sekadar transmisi pengetahuan.
Kurikulum berbasis cinta bukan solusi instan. Ia adalah proses jangka panjang yang menuntut transformasi paradigma dalam mendidik. Namun di tengah krisis empati, krisis iklim, dan krisis identitas, mungkin inilah saatnya kita menggeser arah pendidikan dari pengetahuan menuju kebijaksanaan, dari doktrin menuju kasih, dan dari hafalan menuju penghayatan.
Menerapkan kurikulum berbasis cinta bukan berarti melemahkan nilai-nilai agama, tapi justru menguatkannya. Karena cinta adalah fondasi spiritual yang paling universal dan esensial. Jika pendidikan dimulai dari cinta, maka generasi yang lahir darinya tidak hanya akan cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam bersikap, lembut dalam tutur, dan kokoh dalam nilai.